Aku Ingin Menjadi Orang Yang Mandiri Walaupun Terlihat di Mata Orang Aku Ini Manja.
Minggu, 12 Desember 2010
Di Penghujung Malam
Malam semakin kelam. Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan, sambil menerawang meratapi diriku yang dimakan usia. Meski di musim dingin, tiba-tiba kamarku terasa panas dan sumpek. Desiran angin menembus kamarku membawa khabar yang sulit diterka.
Aku menangis ketika diriku mulai tercabik dan digilas oleh realitas. Aku sendiri belum memahami sejauh mana derita ini akan kulabuhkan. Kucoba mengabarkan kepada orang-orang di sekitarku, tapi mereka hanya bisa menggeleng. Kadang mereka menatapku sinis, tanpa alasan berarti. Mungkin, sudah saatnya aku harus mengabarkan pada ibuku, pikirku. Aku bangkit, lalu meraih pena dan secarik kertas di sudut kamar.
“Ibu…,” begitu kata pembuka yang kutulis dalam surat. “Aku tahu engkau akan menangis setelah membaca suratku ini. Tapi segerahlah usap air matamu itu. Jangan engkau biarkan air mata berurai di pipimu. Aku malu jika ibu hanya bisa menangis tanpa suara, dan berbisik tanpa kata. Ibu, anakmu di sini sedang dalam keperihatinan, bertarung dengan masa depan, berlindung di bawah buramnya cahaya malam.”
Tiba-tiba hatiku dihantui sebuah ketidakpastian. Mengingat kondisiku sampai saat ini yang masih buta tujuan, kepontal-pontal, hatiku ingin menggugat. Kubiarkan pena yang ada di jemariku jatuh menindih kertas di atas meja. Aku berhenti menulis. Kata-kata dalam surat itu ingin kubaca lagi. Tapi pikiranku sudah mulai tak berkonsentrasi. Hingga tanpa kusadari diriku hanyut dalam lamunan mengenang kata-kata ibu kala aku masih bersamanya, di masa-masa silam.
Ya, dari rahim ibu yang suci aku bisa lahir ke dunia ini. Ibu sangat istimewa bagiku, karena dia mengajariku bahasa kasih sayang. Dia juga senantiasa membagi dan menjaga seluruh kasihnya kepadaku, tanpa ingin meminta kembali. Sungguh, aku merasa tersanjung jika mampu menjaga kasih sayangnya, agar tetap bersemi di hati.
“ Nak, mencari ilmu itu berat. Kamu harus bersabar. Ibu ndak ingin melihat kamu tak punya bekal hidup. Kamu harus berusaha, mumpung ada kesempatan,” pesan ibu kepadaku. Kata bijak itu sering dilontarkan ibu setiap kali dia mendapatiku sedang malas belajar. Sampai sekarang pun kata-kata itu tidak bisa lepas dari ingatanku. Aku merasa ibu banyak turut andil dalam membentuk jati diriku.
Memang ibuku tergolong awam. Dia tak paham Al-Qur’an dan Hadits. Tapi nilai-nilai agama terpancar dalam sendi kehidupannya. Karena itu, aku sangat beruntung bila sejak kecil aku dekat dengan ibu. Dan ibu tak jemu-jemunya menuntun jalan hidupku.
“Jangan sekali-kali mementingkan diri sendiri. Kamu harus bisa melupakan kebaikanmu sendiri. Ibu kepingin ilmumu bermanfaat kanggo pribadimu dan orang banyak,” kata ibu.
Memang, sejak meninggalnya ayah kami, ibu begitu perhatian dan dekat dengan anak-anaknya. Ibulah yang kini menjadi tulang punggung kehidupan kami. Aku bersyukur punya ibu yang perkasa, tak pernah mengeluh, tak kenal lelah, biarpun silih berganti kesulitan datang menghantam hidup kami. Dari sini aku beroleh pelajaran bahwa hidup tak boleh cengeng, cepat putus asa, manja, dan musti bekerja keras. Untungnya, saat itu, ketika umurku masih belasan tahun, aku sudah meresapi makna hidup yang kami jalani. Meski demikian, ibu juga tak segan-segan memarahiku. Lebih-lebih jika kenakalanku kelewat batas. Dan, di setiap waktu, ibu tidak pernah lupa menasehatiku tentang falsafah kehidupan. Dia sering mewiridkan kepada kami, anak-anaknya, agar tidak melupakan Gusti Allah. Setelah beranjak dewasa aku menyadari bahwa nasehat ibu begitu penting bagi perjalanan hidupku. Betapa kecintaan seorang ibu terhadap anaknya, sungguh berharga nilainya.
Oleh sebab itu, aku yakin bahwa cinta yang lahir dari ibu telah mengajarkanku makna pemeliharaan dan tanggung jawab hidup. Cinta ibu pulalah yang telah menanamkan rasa syukurku kepada Tuhan atas kehidupan yang kujalani selama ini. Dan rasa syukurku tersebut pada akhirnya membuatku mencintai kehidupan, dan bukan hanya berkeinginan untuk tetap hidup.
Aku menghela nafas panjang. Ah, tak terasa sudah tiga tahun aku berpisah dengan ibu, pikirku. Meski dimakan usia, aku merasa cahaya hidup ibu belum pudar. Masih kuingat, betapa tatapan matanya selalu memancarkan keteduhan. Aku juga sering merindukan senyumnya yang tulus, yang selalu mengembang di bibirnya yang legam dan berkerut. Andai aku berada di hadapannya aku akan membalasnya dengan senyuman terhangat.
“Bu, doakan aku semoga sukses,” pintaku setiap kali selesai bercerita tentang kondisi studiku.
“Meski kamu tak meminta, ibu senantiasa mendoakanmu. Ibu senang jika melihat kamu sukses,” kata ibu. “Dan jangan dikira doa ibu yang menyertai anaknya lantas bisa menyenangkan Gusti Allah. Kamu harus ngerti tindakan nyata juga lebih utama dari sekedar doa.”
Aku tercenung dari lamunanku saat meresapi kata-kata ibu yang terakhir ini. Batinku bergejolak. Dadaku tiba-tiba sesak. Betapa permasalahan yang kupikul akhirnya sedikit demi sedikit bisa kumengerti. Ya, aku sadar bahwa selama ini aku terjebak dalam struktur kehidupan yang angkuh. Aku kerap lupa tidak melakukan kritik yang konstruktif kepada diriku sendiri. Memang aku sering berharap pada kesuksesan. Tapi aku belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran yang keluar dari mulutku dengan tindakan nyata. Agaknya, aku gagal menerjemahkan kata-kata ibu dalam setiap langkah hidupku.
Aku berusaha meraih pena dan secarik kertas yang sempat tergeletak di atas meja. Kubulatkan tekad untuk menulis lagi. Malam ini rasanya aku ingin mencurahkan segenap isi hatiku. Mungkin perasaan rinduku pada ibu yang menjadi alasan utama. Ya, kerinduan yang nyaris mustahil diobati, meski apa yang kutulis ini bukan untuk ditangisi.
“Ibu, anakmu di sini. Mencoba meraih sengenggam harapan yang engkau hembuskan padaku dari hari ke hari. Meski jauh dari sisimu, aku mencoba menatap mentari dan menempuh malam-malam panjang yang sunyi. Sambil menunggu, aku terus bertanya apakah sang mentari besok akan kembali. Dan tiap kali dalam kesendirian, aku terus menghitung hari demi hari. Aku ingin berjumpa kembali denganmu, Ibu. Mungkin engkau akan bertanya, kapankah waktu itu? Ketahuilah Ibu, aku pun bertanya hal yang sama….”
Aku berhenti menulis ketika keraguan tiba-tiba menyelinap di hatiku. Lagi-lagi aku didera kebimbangan. Pikiranku jadi buntu. Dengan pandangan mata sedikit kabut akibat kantuk, kutatap lembaran kertas putih kosong yang masih tersisa separoh. Sementara masih banyak yang harus kutuangkan dalam surat itu. Lagi pula, aku tak ingin segenap persoalanku ini berlarut-larut tinggal di hatiku. Dengan berat hati, aku harus menundanya sampai hari esok.
Dingin malam semakin menusuk. Tak terasa suara adzan shubuh menggema di telinga. Aku bangkit dari tempat dudukku. Aku melangkah keluar mengambil air wudhu. Lalu menundukkan diri di hadapan sang Khalik. Dalam penghambaanku di waktu fajar itu, kupanjatkan segala doa untuk ibu dan pribadi.
“Ya Allah, semoga ibu kami di kampung terkuak kejernihan pikirannya untuk rela memandang dan memahami kondisi anaknya. Dan anugerahkanlah khusnul khatimah kepada ibu kami. Taburkanlah rezeki rohani ke dalam ubun-ubunnya, sehingga peran yang diembannya selama ini bisa bermakna”
“Ya Allah, berilah kami kekuatan, ketabahan, dan kesabaran agar kami bisa menjalani hidup ini. Dan ampunilah segala kelemahan dan kekurangan kami.”
Segala beban batin kutuangkan di atas sajadah. Sambil menunggu mentari pagi, aku terus berpikir merangkai kata-kata duka dalam surat itu. Ini penting agar ngilu di sudut hati sedikit terobati
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar